Rabu, 02 Desember 2015

TEORI AKTIVITAS BELAJAR

a.      Pengertian Aktivitas Belajar
Aktivitas berasal dari kata aktif yang berarti giat, bekerja dan berusaha, atau mampu beraksi, dinamis, bertenaga. Aktivitas berarti pula kegiatan atau kesibukan.[1] Aktivitas yang dimaksud pada penelitian ini adalah aktivitas fisik dan aktivitas mental. Aktivitas fisik dapat dilihat dari kegiatan bekerja, membaca, menulis, menjawab dan mengajukan pertanyaan dan sebagainya. Sedangkan aktivitas mental dapat dilihat dari kegiatan mendengar, berpikir dan mengamati.
Belajar adalah adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, dan perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.[2] Belajar adalah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang setelah berakhirnya melakukan aktivitas belajar.[3] Jadi dalam proses pembelajaran di sekolah aktivitas akan berpengaruh pada perubahan tingkah laku siswa, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu.

Aktivitas belajar adalah kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran yang terdiri dari gerakan, belajar pengetahuan, belajar memecahkan masalah, belajar informasi, belajar konsep, belajar keterampilan, serta belajar sikap.[4] Silberman menjelaskan aktivitas belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara perorangan maupun secara berkelompok untuk memahami perasaan, nilai-nilai, dan sikap-sikap.[5] Martinis Yamin menyatakan bahwa aktivitas belajar adalah suatu usaha manusia untuk membangun pengetahuan dalam dirinya. Dalam proses pembelajaran terjadilah perubahan dan peningkatan mutu kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan siswa, baik dalam ranah kognitif, psikomotor dan afektif.[6]
Hisyam Zaini menjelaskan bahwa aktivitas belajar adalah kegiatan siswa yang mendominasi aktivitas belajar. Dengan ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi, memecahkan persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam persoalan yang ada dalam kehidupan nyata.[7]
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar sebagai seluruh kegiatan siswa dalam proses pembelajaran mulai dari kegiatan psikis sampai kegiatan psikis, dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan, kepandaian dan perubahan tingkah laku setelah berakhirnya kegiatan pembelajaran.
b.      Jenis-Jenis Aktivitas Belajar
Aktivitas belajar merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran baik itu yang dilakukan oleh siswa maupun guru. Menurut Paul B. Diedrich dalam buku Nasution mengatakan bahwa ada berbagai macam kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran, yaitu:
1)      Visual activities, seperti membaca, memperhatikan, menggambar, demonstrasi dan percobaan.
2)      Oral activities, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran,mengeluarkan pendapat,mengadakan interview.
3)      Listening activities seperti mendengarkan uaraian, perakapan diskusi, music, pidato, dan sebagainya.
4)      Writing activities, seperti menulis cerita, karangan, laporan tes,dan sebagainya.
5)      Drawing activities, seperti menggambar, membeuat grafik, peta, diagram, pola, dan sebagainya.
6)      Motor activities, seperti melakukan percobaan, membuat kontruksi, model, mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang dan lain sebagainya.
7)      Mental activities, seperti menanggap, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat, hubungan, mengambil, keputusan dan sebagainya.
8)      Emosional activities, seperti menruh minat, merasa bosan, berani, tenang, gugup,dan sebagainya.[8]
                                        
Berdasarkan klasifikasi di atas, maka aktivitas yang ideal dilaksanakan ketika proses pembelajaran berlangsung antara lain:
1)      Visual activities yang dilakukan siswa ketika mengikuti proses pembelajaran meliputi:
a)      Membaca materi pembelajaran yang ada di buku paket.
b)      Ketika pendidik menjelaskan dengan menggunakan media pembelajaran, siswa memperhatikan.
c)      Memperhatikan percobaan yang sedang dipraktekkan.
2)      Oral activities yang dilaksanakan oleh siswa meliputi:
a)      Menanyakan materi pelajaran yang belum dipahami.
b)      Berdiskusi dengan rekannya untuk menyelesaikan suatu persoalan atau saling bertukar informasi.
c)      Memberikan saran perbaikan untuk proses pembelajaran pada pertemuan selanjutnya.
d)     Memberikan pendapat atas ide yang diberikan oleh pendidik maupun rekannya.
e)      Memberikan contoh kongrit dalam kehidupan nyata yang berhubungan dengan materi pembelajaran.
3)      Listening activities meliputi:
a)      Mendengarkan penjelasan pendidik maupun rekannya
b)     Mendengarkan diskusi yang disampaikan oleh rekannya.
c)      Mendengarkan musik ketika belajar kesenian dan belajar bahasa Inggris.
d)     Ketika belajar bahasa Indonesia pada pokok bahasan pidato dan ada peserta didik yang mewakili rekannya untuk berpidato di depan kelas,siswa yang lainnya mendengarkan.
4)      Drawing activities terdiri dari:
a)      Siswa membuat peta ketika belajar geografi
b)      Menggambar bangun datar maupun bangun ruang
c)      Menggambar pemandangan, hiasan, rumah dan sebagainya ketika belajar menggambar.
d)     Membuat grafik trigonometri maupun diagram ketika belajar matematika.
5)      Motor activities terdiri dari:
a)      Siswa melakukan percobaan
b)      Berkebun ketika belajar pertanian
c)      Siswa beternak ketika belajar peternakan
d)     Siswa memperbaiki mesin atau merancangnya ketika belajar di sekolah menengah kejuruan.
6)      Mental activities meliputi:
a)      Siswa menanggapi pendapat rekannya
b)      Siswa mengingat materi pelajaran.
c)      Siswa menyelesaikan soal yang diberikan pendidik
d)     Siswa membuat kesimpulan dari materi yang telah dipelajari
7)      Emotional activities misalnya:
a)      Siswa berminat dengan pelajaran ekonomi
b)      Siswa merasa bosan ketika belajar ekonomi.
c)      Siswa gembira dan bersemangat belajar ketika mempelajari materi yang mudah dipahami.
d)     Siswa berani mengungkapkan pendapatnya
e)      Siswa tenang saat mengikuti proses pembelajaran
f)       Siswa gugup ketika ditanya oleh pendidik
Aktivitas-aktivitas tersebut tidak bisa dipisahkan antara satu sama yang lainnya karena saling berpengaruh daan saling mendukung. Agar kegiatan belajar mengajar dapat mencapai tujuan yang seoptimal mungkin yang diharapkan.
c.       Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas belajar
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa menurut Ngalim Purwanto terdiri atas dua bagian, yaitu faktor internal dan faktor dan eksternal.
1)  Faktor Internal
Faktor internal adalah seluruh aspek yang terdapat dalam diri individu yang belajar, baik aspek fisiologis (fisik) maupun aspek psikologis (psikis).
a) Aspek Fisik ( Fisiologis)
Orang yang belajar membutuhkan fisik sehat. Fisik yang sehat akan mempengaruhi seluruh jaringan tubuh sehingga aktivitas belajar tidak rendah. Agar seseorang dapat belajar dengan baik maka harus memiliki fisik yang sehat.
b) Aspek Psikis (Psikologis)
Menurut Sadirman, ada delapan faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan aktivitas belajar. Sepetri perhatian, pengamatan, tanggapan, fantasi, ingatan, berfikir, bakat dan motif.[9]

2)  Faktor Eksternal
Adapun faktor eksternal terdiri atas :
a)   Keluarga
Faktor keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar siswa, besar kecilnya penghasilan, cukup atau kurangnya perhatian dan bimbingan orang tua, rukun atau tidaknya kedua orang tua, akrab atau tidaknya hubungan anak dengan orang tua, tenang atau tidak , semuanya itu sangat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.
b)   Sekolah
Keadaan sejolah tempat belajar turut mempengaruhi aktivitas belajar siswa. Kualitas guru, metode mengajarnya, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan anak, keadaan fasilitas atau perlengkapan di sekolah, dan yang lainnya dapat mempengaruhi aktivitas belajar siswa.

c)   Masyarakat
Sebagai anggota masyarakat, siswa tidak bisa melepaskan diri dari ikatan sosial. Sistem sosial yang terbentuk mengikat perilaku siswa untuk tunduk terhadap norma yang berlaku dalam masyarakat.

d)  Lingkungan sekitar
Keadaan lingkungan sekitar atau tempat tinggal sangat mempengaruhi dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa. Keadaan lingkungan bangunan rumah, susana sekitar, keadaan lalu lintas, iklim dan sebagainya.
a.       Indikator Aktivitas Belajar Siswa
Adapun indicator aktivitas belajar siswa yang dilihat dalam proses pembelajaran, yaitu:
a)      Siswa tidak hanya menerima informasi tetapi lebih banyak mencari dan memberikan informasi.
b)      Siswa banyak mengajukan pertanyaan baik kepada guru maupun kepada siswa lain.
c)      Siswa lebih banyak mengajukan pendapat terhadap informasi yang disampaikan oleh guru atau siswa lain.
d)     Siswa memberikan respon yang nyata terhadap stimulus belajar yang dilakukan guru.
e)      Siswa berkesempatan melakukan penilaian sendiri terhadap hasil perkerjaannya, sekaligus memperbaiki dan menyempurnakan hasil pekerjaan yang belum sempurna.
f)       Siswa membuat kesimpulan pelajaran dengan bahasanya sendiri.
Siswa memanfaatkan sumber belajar atau lingkungan belajar yang ada disekitarnya secara optimal.[10]


[1]Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), hal. 8449.
[2]Ibid, hal. 391.
[3]Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta : Rineka Cipta, 2007),  hal. 38.
[4]Muhammad Thobrani dan Arif Mustafa, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hal.25
[5]Silberman, Active  Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif, (Yogyakarta: Nusa Media, 2009), hal.13
[6]Martinis Yamin, Kiat membelajarkan siswa, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2007), hal.82
[7]Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: CTSD, 2007), hal.14
[8]Nasution, Ditaktik Asas-Asas Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara, 2008, hlm. 91
[9]Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2013 hal, 131
[10] Nana Sudjana, CBSA Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru, 1989, hlm. 110

Kamis, 14 Mei 2015

Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Point Counterpoint
a.      Pengertian Strategi Pembelajaran
Pada awalnya istilah strategi hanya digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara untuk memenangkan peperangan. Sekarang, istilah strategi banyak digunakan dalam berbagai bidang kegiatan untuh memperoleh keberhasilan dalam mencapai tujuan. Peneliti dalam hal ini menggunakan istilah strategi dalam bidang pendidikan dengan tujuan mengantarkan keberhasilan siswa dalam pembelajaran.
Mintzberg dan Waters dalam Abdul Majid mengemukakan bahwa strategi adalah pola umum tentang keputusan atau tindakan. Kemudian Hardy, Langley, dan Rose juga dalam Abdul Majid mengemukakan strategi dipahami sebagai rencana atau kehendak yang mendahului dan mengendalikan kegiatan.[1]
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, jika dihubungkan dengan pendidikan dapat disimpulkan bahwa stretegi adalah suatu pola yang direncanakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran.
Strategi yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran disebut strategi pembelajaran. Secara sederhana, istilah pembelajaran bermakna sebagai upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai upaya dan berbagai strategi, metode dan pendekatan ke arah pencapaian tujuan yang telah direncanakan.[2]
Berikut pendapat beberapa ahli yang dikutip dari Abdul Majid yang berkaitan dengan pengertian strategi pembelajaran:
Kemp menjelaskan bahwa stategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien.
Dick and Carey menjelaskan bahwa strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu pola pembelajaran yang diterapkan oleh guru kepada peserta didik. Tujuannya adalah terwujudnya efesiensi dan efektivitas kegiatan pembelajaran. Pihak-pihak yang terkait adalah guru dan peserta didik.
b.      Strategi Pembelajaran Kooperatif
Salah satu strategi dari pembelajaran kelompok adalah strategi pembelajaran kooperatif. Strategi pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang akhir-akhir ini menjadi perhatian dan dianjurkan oleh para ahli pendidikan untuk digunakan.
Istilah cooperative learning dalam pengertian bahasa Indonesia dikenal dengan nama pembelajaran kooperatif. Menurut Jhonson dalam Isjoni cooperative learning adalah mengelompokkan siswa di dalam kelas ke dalam suatu kelompok kecil agar siswa dapat bekerja sama dengan kemampuan maksimal yang mereka miliki dan mempelajari satu sama lain dalam kelompok tersebut.[3]
Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk berintekrasi. Dalam sistem belajar yang kooperatif, siswa belajar bekerja sama dengan anggota lainnya. Dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab, yaitu mereka belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar.Siswa belajar bersama dalam sebuah kelompok kecil dan mereka dapat melakukannya seorang diri.[4]
Berdasarkan penjabaran di atas dapat kita simpulkan bahwa strategi pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja sama dengan anggota lainnya. Dalam pembelajaran kooperatif ini siswa memiliki tanggung jawab belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar.  Tujuan utama dalam penggunaan pembelajaran kooperatif adalah agar peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok.
c.       Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Point Counterpoint
Strategi pembelajaran koperatif tipe point counterpoint adalah strategi pembelajaran yang dapat mengaktifkan belajar siswa secara mendalam. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Hisyam Zaini dalam bukunya strategi pembelajaran aktif bahwa strategi pembelajaran kooperatif tipe point counter point adalah proses pembelajaran yang berpusat pada kegiatan belajar siswa dalam mediskusikan isu-isu kompleks secara mendalam, dimana siswa lebih memiliki kebebasan dalam belajarnya.[5]
d.      Langkah-langkah dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe Point Counterpoint
Agar lebih jelas mengenai strategi pembelajaran tipe pointcounterpoint dapat dikemukakan langkah-langkahnya sebagai berikut:
1)    Pilihlah isu-isu kontroversi yang mempunyai banyak perspektif
2)   Bagi siswa ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah perspektif yang ditentukan
3)   Minta masing-masing kelompok untuk menyiapkan argumen-argumen sesuai dengan pandangan kelompok yang diwakili. Dalam aktivitas ini ini pisahkan masing-masing tempat duduk kelompok
4)   Kumpulkan kembali siswa dengan catatan, siswa duduk berdekatan dengan teman satu kelompoknya
5)   Mulai debat dengan mempersilahkan kelompok mana saja yang akan menyampaikan argumen
6)   Setelah salah seorang siswa menyampaikan suatu argumen sesuai dengan pandangan yang diwakili oleh kelompoknya, bantah atau koreksi dari kelompok yang lain prihal isi yang sama.
7)   Lanjutkan proses ini sampai waktu yang memungkinkan
8)   Rangkum debat yang baru saja dilaksanakan dengan menggaris bawahi atau mungkin mencari titik temu dari argumen-argumen yang muncul.[6]
e.       Keunggulan dan Kelemahan Strategi Pembelajaran Point Counterpoint
Adapun keunggulan dari strategi pembelajaran point counterpoint adalah sebagai berikut:
1)    Efektif digunakan untuk melibatkan siswa dalam diskusi
2)   Efektif digunakan pada pelajaran agama, sosial atu tentang lingkungan
3)   Dapat menciptakan kerjasama siswa untuk memecahkan masalah dalam belajar
Adapun kelemahan dari strategi point counterpoint adalah sebagai berikut:
1)   Strategi ini penggunaannya terbatas pada pelajaran tertentu saja, dan kurang efektif untuk pelajaran Sains, Matematika dan lain-lain.
2)   Pelaksanaan diskusi dalam pembelajaran membutuhkan pengawasan yang baik agar diskusi berjalan dengan benar.[7]



[1]Abdul Majid, Op. Cit. hal. 3.
[2]Ibid, hal. 4.
[3]Isjoni, Cooperative Learning, Bandung: Alfabeta, 2010, hal. 17.
[4]Rusman, Model-model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada 2013, hal. 203.
[5]Hisyam Zaini, Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta: Insan Madani, hal. 41.
[6]Ibid, hal. 42.                          
[7]Hisyam Zaini dkk, Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta : CTSD, 2007, hal. 42